/**/

SOCIAL MEDIA

Sunday, July 05, 2020

#RendyToInfiniTia part. 1

A little throwback.

Yash, gengs. Gw akhirnya menikah dengan laki-laki yang sudah berpacaran dengan gw sejak 6 Desember 2011 pada tanggal 4 Mei 2019 lalu. Lama ya waktu berpacaran kami? Hahahahaha.


Tapi tau nggak? Pernikahan kami itu bukan pernikahan yang kami rencanakan.

Lho lho, kok tidak direncanakan......? Maksudnya........?

Iya, jadi beberapa bulan sebelum kami menikah, papanya Rendy meninggal dunia & meninggalkan pesan pada Rendy untuk segera menikah..

Sekitar bulan Mei 2018, papanya Rendy tiba-tiba meminta Rendy untuk segera menikahi gw dengan alasan, "Mumpung papa masih ada & masih bisa lihat." Ya, gengs, papanya Rendy saat itu sedang berjuang melawan sakitnya. Komplikasi gitu deh. Keinginan terakhir papanya untuk Rendy saat itu adalah melihat Rendy menikah. Tapi Tuhan berencana lain, papanya Rendy pergi lebih dulu sebelum kami sempat menikah.

Saat disuruh menikah bulan Mei itu, gw jelas menolak dengan keras. Bukan karena gw nggak cinta, tapi gw sungguh sangat belum siap.

Lha, pacaran udah lama kok masih belum siap?

Hei! Waktu lamanya pacaran tidak serta merta menjadikan individu yang menjalankannya punya kesiapan mental untuk menikah lho. Menikah itu tidak main-main. Bagi gw, seorang Katolik, pernikahan itu sakral & berlaku seumur hidup sampai maut memisahkan. Gw juga punya alasan sendiri, kapan-kapan aja gw ceritain ya.

Akhirnya setelah penuh pertimbangan, akhirnya dipilihlah sekitar akhir September atau awal Oktober. Tapi tiba-tiba adalah problem internal keluarga, kami memutuskan untuk menunda pernikahan kami. Sampai akhirnya papanya Rendy pergi, pernikahan kami masih tertunda.

Mulai lagi dibicarakan, dll, akhirnya pilihan jatuh di tanggal 4 Mei. Berbarengan dengan tanggal ulang tahun Rendy.

Wahhh, selama menyiapkan #rendytoinfinitia itu DRAMANYA BANYAK BANGET! Bukan datang dari gw & Rendy, tapi justru dari orang-orang terdekat gw & Rendy.

Saat itu gw kan masih ngantor di Kemayoran & sekantor sama salah satu sahabat gw dan hampir tiap beberapa hari sekali itu ya gw naik ke ruangan dia cuma buat nangis. Adaaaaa aja yang ditangisin. Dan tiap hari gw bawel di WhatsApp, isinya cuma curhatan yang isinya sedih, kesel, & marah ke sahabat-sahabat gw. Thanks, guys, kalian bener-bener berjasa dalam hidup gw.

Bener deh, gw gak bohong. Selagi menyiapkan pernikahan itu bener-bener cobaan datang dari mana-mana. Harus kuat iman & kuat hati, supaya pernikahan bisa terlaksana meski tertatih-tatih.

Nah, yang tadi gw bilang pernikahan itu bukan pernikahan yang kami rencanakan, maksudnya adalah.... terlalu banyak campur tangan dari orang lain. Gw & Rendy tidak leluasa dalam merencanakan semuanya. Gw & Rendy maunya acaranya cuma simple, yang penting sah sah sah, dengan harapan kami tidak perlu keluar uang terlalu banyak sehingga sisanya bisa kami gunakan untuk membuka usaha & honeymoon. Tapi kenyataannya.... habis blas tak bersisa. Bahkan sampai detik gw ngetik ini pun, gw & Rendy belum juga bisa honeymoon. Kenapa? Ya karena campur tangan orang lain tadi. Pengen gw frontalin tapi nanti bisa berantem sama pihak lain hahaha jadi gw tidak akan jelasin detail.

Jadi pelajaran yang bisa diambil adalah, MENIKAHLAH SESUAI KEINGINAN KALIAN SENDIRI. Maunya simple? JALANIN. Maunya mewah? JALANIN. Maunya di kebun? JALANIN. Maunya di restoran? JALANIN. Mau undang cuma 50 orang? JALANIN. Orang lain mau ngomong abcde-z, CUEKIN. Ini acara tuh acara kalian. Bukan acara orang lain. Yang akan jalanin kehidupan setelah hari pernikahan kalian ya kalian berdua, bukan kalian + orang lain. Kalian yang akan mengelola keuangan berdua, bukan orang lain. Jadi kalian yang paling paham apa yang akan terjadi & kalian rencanakan setelah hari H. Karena hari H adalah 'pintu gerbang' menuju kehidupan pernikahan yang sesungguhnya.



Menikah itu tidak semanis di film-film ataupun media sosial lho. Di media sosial orang-orang hanya menampilkan yang manis-manisnya aja. Drama-dramanya? Dikonsumsi sendiri, konsumsi pribadi. Gw yang udah pacaran 7 tahun aja, masih butuh masa penyesuaian walaupun gak lama. Gw sampe bisa mikir, "Kayak gini nih yang namanya nikah? Kok gak enak banget sik? Cuma orang gila yang bilang awal-awal nikah itu masih manis-manisnya. Boro-boro manis, yang ada berantem terus. CAPEK! Bukan kehidupan kayak gini yang gw mau, yang isinya cuma berantem berantem berantem!"

Tapi sesudah gw melewati pernikahan gw selama setahun ini, gw bisa bilang bahwa menikah itu seru. Banyak tantangannya, banyak berantemnya, banyak senengnya, banyak sedihnya, banyak asiknya. Setiap hari gw belajar. Ada aja yang baru dari pasangan gw. Dan setiap hari juga akan terus ada penyesuaian. Dan gw bersyukur gw menikah sama pasangan gw, karena komunikasi kami bisa berjalan lancar meski harus berderai air mata. Banyak pelajaran pernikahan yang akhirnya kami pelajari sendiri. Bagaimana kami menghadapi ego masing-masing, bagaimana kami mencari solusi bersama, bagaimana cara kami bersepakat untuk masalah pekerjaan & masalah rumah, dll. Pelajaran-pelajaran itu gak kami dapatkan di institusi, tapi kami pelajari dari orang-orang terdekat kami yang sudah berpengalaman. Dan gw bersyukur gw dikelilingi orang-orang yang suportif & positif, jadi kami bisa membangun pernikahan kami di lingkungan yang baik.

Yak, sekian dulu cuap-cuapnya soal #rendytoinfinitia. Nanti akan gw sambung lagi ya! Toodles!

2 comments :

  1. Sebenernya kemauan kita pengen yang simpel dan ga terlalu banyak undang orang, tapi apa daya. Tapi karena udah berlalu ya mau gimana ya, tapi kalo suatu hari punya anak kayanya aku gak mengharuskan pesta besar2an, karena kehidupan setelah nikah jauh lebih penting. Semangat tia! 🤗

    ReplyDelete
  2. setujuuuu! jadi kita yg harus putus rantai yaaa.. semangat juga irene!

    ReplyDelete

Please feel free to leave your comments here. I want to hear your feedback and ideas for my next posts. Any comments having bad language will be deleted. Thanks! :)